SEPUTARBERITAPihak berwenang Malaysia telah mengembalikan jasad 11 orang yang tewas dalam kecelakaan kapal pada 15 Desember di lepas pantai Johor Bahru, Malaysia kepada mitra Indonesia di Batam, Kepulauan Riau, pada hari Kamis. Kepala Biro Misi Internasional Polri Brigjen. Jenderal Krishna Murti mengatakan pada
hari Kamis bahwa jenazah, yang diduga sebagai migran tidak berdokumen yang bepergian ke Malaysia, akan diidentifikasi di Rumah Sakit Polisi Bhayangkara Kepulauan Riau di Batam. Setelah proses identifikasi, Badan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2MI) akan memulangkan mereka ke AGENDOMINO
kampung halaman, kata Wakil Inspektur BP2MI. Jenderal Achmad Kartiko. Achmad mengimbau para pekerja migran Indonesia yang akan bekerja di Malaysia untuk berhati-hati terhadap penyelundup manusia. “Jika ada warga yang menemukan calo yang menawarkan untuk memfasilitasi perjalanan
ilegal ke Malaysia, mereka harus melaporkannya ke pihak berwenang. Karena kejahatan terhadap TKI merupakan kejahatan luar biasa,” kata Achmad. Achmad melanjutkan, ada 10 korban lainnya yang jasadnya masih dalam tahanan pihak berwenang Malaysia, menambahkan bahwa mereka akan diserahkan kepada mitra Indonesia setelah proses verifikasi.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Yudhi Ardian mengatakan kementerian akan terus bekerja dengan pemangku kepentingan terkait untuk mencegah penyeberangan ilegal oleh pekerja migran Indonesia yang tidak berdokumen. Pada 15 Desember, sebuah kapal yang membawa sekitar 60 orang Indonesia
yang berusaha memasuki Malaysia secara ilegal terbalik karena cuaca badai di lepas pantai Tanjung Balau, Johor Bahru, Malaysia. Kapal tersebut dilaporkan berangkat dari Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Badan Penegakan Maritim Malaysia mengevakuasi kapal yang terbalik dan Agen Poke
menyelamatkan 20 pria dan dua wanita. Badan tersebut melaporkan bahwa setidaknya 11 orang, tujuh pria dan empat wanita, tewas sementara 27 orang masih hilang. Kecelakaan itu adalah yang terbaru dalam serangkaian bencana yang tercatat di perairan antara Indonesia dan Malaysia dalam beberapa
tahun terakhir, yang sering melibatkan kapal yang kelebihan muatan mengangkut buruh yang mencari pekerjaan di Malaysia, menurut laporan Reuters. Menurut kelompok hak asasi Migrant CARE yang berbasis di Jakarta, antara 100.000 dan 200.000 orang Indonesia melakukan perjalanan secara ilegal ke Malaysia setiap tahun untuk bekerja, banyak dari mereka direkrut oleh pedagang manusia.





0 komentar:
Posting Komentar