SEPUTARBERITAIndonesia pada hari Rabu mengatakan akan membiarkan puluhan pengungsi Rohingya mendarat setelah protes dari penduduk setempat dan masyarakat internasional atas rencananya untuk mendorong mereka ke perairan Malaysia. Sedikitnya 100 sebagian besar wanita dan anak-anak di atas kapal kayu yang tertimpa
musibah di lepas pantai provinsi Aceh ditolak perlindungannya di Indonesia, di mana pihak berwenang pada hari Selasa mengatakan mereka berencana untuk mendorong mereka ke negara tetangga Asia Tenggara itu setelah memperbaiki perahu mereka. Setelah pertemuan sepanjang hari pada hari Rabu antara AGENDOMINO
pejabat di kota pesisir Bireun, Jakarta mundur dan mengatakan kapal para pengungsi akan ditarik ke pantai dengan alasan kemanusiaan. "Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi darurat para pengungsi di kapal itu," kata Armed Wijaya, Kepala Gugus Tugas Nasional Pengungsi. Perahu
Rohingya sekarang berada sekitar 50 mil (80 kilometer) dari Bireun dan akan ditarik ke darat, katanya tanpa merinci waktunya. “Karena sekarang di tengah pandemi, semua pengungsi akan menjalani pemeriksaan kesehatan,” katanya seraya menambahkan bahwa satgas akan berkoordinasi dengan
pemangku kepentingan terkait untuk menyediakan tempat tinggal dan logistik bagi para pengungsi. Pihak berwenang Indonesia pertama kali melihat kapal kayu itu dua hari lalu, terdampar sekitar 70 mil laut di lepas pantai Indonesia, menurut seorang komandan angkatan laut setempat. Nelayan setempat
telah memperingatkan mereka pada 25 Desember, kata salah satu dari mereka. Pada hari Selasa, Amnesty International dan UNHCR meminta pemerintah untuk membiarkan kelompok pengungsi Rohingya yang terdampar mendarat. Rencana sebelumnya oleh pihak berwenang di Aceh untuk Agen Poke
mengirim para pengungsi ke Malaysia juga membuat marah penduduk setempat di Bireun, di mana sekelompok nelayan pada hari Rabu mengadakan protes menuntut pihak berwenang untuk mengizinkan Rohingya turun. "Kami melihat video kondisi mereka di media sosial. Mereka membutuhkan air dan makanan. Mereka harus diperlakukan dengan baik sebagai manusia," kata Wahyudi, warga Bireun, kepada AFP melalui telepon.





0 komentar:
Posting Komentar