Kamis, 09 Desember 2021

Harapan, Kesedihan Saat Relawan Mencari Korban Semeru


SEPUTARBERITA
Di kaki Gunung Semeru di Indonesia, apa yang tersisa dari rumah-rumah di sepanjang jalan utama desa tertutup lapisan tebal abu vulkanik yang mengeras. Curah Kobokan adalah salah satu daerah yang paling parah terkena dampak ketika Gunung Semeru setinggi 3.676 meter (12.060 kaki) meletus pada hari Sabtu, 


mengirimkan awan abu ke langit dan aliran piroklastik yang berbahaya ke desa-desa di bawahnya. Setidaknya 34 orang tewas dan 22 orang hilang pada Selasa. Sejak hari pertama bencana, relawan Dodik Suryadiawan, 36, telah mengemudi di jalan bergelombang dengan kendaraan pribadinya, membantu AGENDOMINO


mengambil sisa-sisa orang yang tewas. Di antara korban yang ditemukannya adalah seorang ibu yang meninggal saat memeluk anaknya. "Saya merasa sangat menyesal, terutama ketika saya mencoba membayangkan abu panas yang jatuh saat itu," katanya. Dengan menggunakan alat berat dan sekop, 


Dodik dan rekan-rekan relawan bergabung dengan tim pencari polisi, militer, dan BNPB, menyisir lahan bekas rumah dan perusahaan tambang pasir. Saat gunung berapi aktif memuntahkan udara panas di belakangnya, Dodik yang tidak memiliki pelatihan formal, terus-menerus diingatkan betapa berbahayanya 


pekerjaannya. Badan Vulkanologi Indonesia pada hari Senin mengatakan ada potensi aliran lebih lanjut dari gas panas, abu dan batu. Dodik mulai menjadi relawan sebagai bagian dari kelompok hobi kendaraan roda empat membantu operasi pencarian dan penyelamatan Desember lalu ketika banjir Agen Poke


melanda Kabupaten Lumajang, tempat Curah Kobokan berada. “Kami terinspirasi untuk mengungkapkan loyalitas kami (kepada masyarakat) melalui hobi kami,” katanya. Pada hari Selasa, 


Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengunjungi zona bencana dan mengatakan setidaknya 2.000 rumah perlu direlokasi ke daerah yang lebih aman. Bagi Dodik, membantu orang menemukan orang yang mereka cintai adalah yang terpenting.

0 komentar:

Posting Komentar