Kamis, 18 November 2021

Pembuat batik Jawa Tengah beralih ke bakau karena permintaan akan pewarna lingkungan meningkat


SEPUTARBERITA
Di hutan bakau yang tenang di Indonesia tengah, seorang pria bergerak dengan hati-hati melintasi vegetasi yang dibedakan oleh akar kayunya yang besar, mencari buah bakau yang jatuh yang bertumpu pada daun atau mengapung di atas air. Mengumpulkan segenggam kacang panjang, pria itu, seorang pengrajin batik, 


pulang ke rumah untuk membuat pewarna alami darinya. Selama empat tahun terakhir, Sodikin, 48, dan kelompok pembatiknya telah beralih dari menggunakan bahan kimia untuk pewarnaan ke produk berbasis AGENDOMINO


mangrove, menghemat biaya dan membantu lingkungan. "Kami menggunakan bahan-bahan alami untuk melestarikan hutan bakau pada saat yang sama," kata Sodikin kepada Reuters saat dia mengolah buah-buahan kering sebelum direbus untuk mendapatkan warna. "Kami tidak menebang pohon dan kami hanya 


mengambil buah atau daun yang tumbang." Batik adalah pewarnaan tradisional Indonesia yang digunakan dalam pola dan gambar, biasanya pada kain dan tekstil jadi. Mangrove memainkan peran penting bagi lingkungan alam Indonesia, berfungsi sebagai penghalang terhadap tsunami dan menyediakan ekosistem 


penting bagi ikan dan kepiting. Mereka juga merupakan penyerap emisi karbon dioksida yang lebih efektif dibandingkan dengan hutan hujan atau lahan gambut. Meski lebih kusam daripada pewarna sintetis, Agen Poke


pewarna alami lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai pasar yang lebih besar karena kualitas dan daya tahannya, menurut Erwin Ardli, ahli ekologi mangrove di Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah.


0 komentar:

Posting Komentar